DAMPAK
NEGATIF DARI ES BATU
Cuaca pada saat ini sangat sulit diprediksi kadang panas kadang hujan sehingga membuat kondisi tubuh sulit untuk beradaptasi terhadap cuaca yang tidak menentu. Ketika cuaca panas melanda, terik matahari yang begitu panas membuat setiap orang akan merasa kehausan, dan yang terbayang untuk mengatasi kehausan adalah minuman dingin yang dapat menghilangkan rasa haus seketika. Tapi dibalik minuman dingin tersebut terdapat benda padat yang sering disebut ES BATU ternyata berakibat buruk bagi kesehatan. Harga untuk satu es balok cukup murah hanya berkisar Rp 6.000 sampai Rp 7.000. Selain menggunakan bahan berbahaya, proses pembuatan es batu di pabrik tidak dilakukan secara bersih dan steril. Menurut ahli pangan, bakteri yang ada dalam air mentah tidak mati meski dalam kondisi beku. Bakteri baru bisa mati jika lama berada di lingkungan beku. Jika masuk ke dalam tubuh, bakteri ini bisa membahayakan kesehatan.
Kebanyakan es batu atau
es balok dibuat menggunakan air mentah. Tak jarang airnya berasal dari sungai
yang disuling dan ditambahkan bahan kimia sebagai penjernih. Kemudian dimasukan
ke dalam pendingin dan jadilah es batu atau es balokEs batu merupakan air yang
dibekukan, yang didinginkan di bawah 0 ÂșC. Es batu digunakan sebagai pelengkap
atau sebagai bahan tambahan minuman, juga digunakan sebagai salah satu metode
atau cara pengawetan bahan-bahan makanan, daging ikan, makanan dalam kaleng,
serta digunakan untuk pendingin minuman. Studi di beberapa negara menunjukkan
bahwa es batu yang digunakan dalma makanan dan minuman yang dibuat pabrik es
mengandung Escherichia coli, dan baktericoliform. Kehadiran kuman-kuman
tersebut disebabkan rendahya kualitas sumber air.
Sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Jasmine Roberts terhadap es batu yang terdapat pada rumah makan
siap saji di wilayah Florida Selatan menunjukkan 70% es batu restoran siap saji
mempunyai lebih banyak kuman dibandingkan air toilet (Lampung Post, 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh WTHR-
Indianapolis News and Weather terhadap 25 sampel es dari bar dan restoran
terkenal di Indianapolis menujukkan 13 dari 25 sampel es tersebut memberikan
hasil positif Escherichia coli (Segall,2008).
Penelitian yang dilakukan lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarkat
institut pertanian Bogor terhadap proses pembuatan dan distribusi es batu
menunjukkan 14 dari 31 sampel es memberikan hasil positif terhadap kontaminasi Escherichia coli (Antung S.F, 2006).
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui tindakan kontaminasi bakteri Escherichia coli dan bakteri enterobacteriaceae lain pada es batu di
tiga rumah makan ayam goreng siap saji.
KESIMPULAN
Didapatkan
kesimpulan bahwa media promosi kesehatan mengenai dampak negatif es batu cukup diperlukan
karena fenomena ini sangat
memprihatinkan, lantaran sudah di ketahui bahwa pembuatan es batu itu tak
memakai prosedur standard yang diharuskan untuk menghasilkan barang
mengkonsumsi pangan. Maka dengan adanya karya tulis ini semoga pembaca dapat
mulai mengurangi pengkonsumsian es batu terutama es batu yang kita beli di luar
yang kita tidak mengetahui kebersihannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar